Surat ini diturunkan di Kota Suci Mekkah. Dalam surat sebelumnya, Al-Inshirah (Kelapangan Dada), Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. bahwa reputasi beliau akan ditinggikan. Didalam surat ini, Allah menyatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, dan secara alami, dia memiliki bakat serta kemampuan tertinggi, dan untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, dia harus menggunakan kemampuan dan sikapnya secara terukur. Jika kita memerlukan bukti, kita harus menengok kepada orang-orang yang memelihara potensi alamiah mereka sesuai dengan perintah Allah dan yang menjaga fitrahnya yang sejati pada prinsip moderat dan mencermati bagaimana ketinggian posisi yang bisa diraih dalam hidupnya. Ini adalah mereka yang Allah anugerahkan rahmat-Nya yang melangkah disepanjang jalan yang lurus yakni jalan para Nabi dan waliyullah.
Jadi, mereka yang mengembangkan bakat serta kemampuan yang diberikan oleh Allah Ta’ala akan mencapai suatu ranking sedemikian tinggi sehingga mereka dipandang dengan penuh kehormatan baik didunia maupun diakhirat, dan diantara mereka, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. serta Nabi Muhammad s.a.w. telah secara khusus disebut dalam surat ini dan kehadiran mereka sebagai ciptaan Allah yang terbaik telah ditonjolkan.
Surah At Tin Tafsiran Dan Hikmah title=Surat At Tin style=width:100%;text-align:center; onerror=this.onerror=null;this.src='https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcREbEDvZ-Jv25qGGlKlQaWGIoQ6TrcC-lkPejajKPZFM_ktd7kPfMRGxsodswE091TTV-Q&usqp=CAU'; />
Merujuk kepada suatu wilayah dimana nabi-nabi dibangkitkan untuk membawa risalah Allah dan demikianlah maka buah tinn (ara) dan buah zaitun diperlukan untuk merujuk negeri dimana nabi-nabi itu dibangkitkan. Pada saat Qur’an Suci diturunkan, dan bahkan hingga hari ini, pohon ara dan zaitun adalah buah-buahan yang tumbuh di Syria dan Palestina, dan baik jumlah maupun kualitasnya tak tersaingi oleh negeri-negeri lain di dunia ini. Maka bila tin dan zaitun dapat dijadikan perlambang yang diterapkan ke suatu daerah dimana nabi-nabi dibangkitkan, maka ini hanya bisa merujuk ke wilayah Syria dan palestina dimana buah-buahan ini berkembang.
Tafsir Surat At Tin Dan Surat Al Insyirah (bagian Ke 1)
Namun, beberapa peneliti berpendapat bahwa tin dan zaitun adalah dua bukit di Palestina, yang pertama adalah tempat mengungsi Nabi Ibrahim a.s. setelah lari dari kaumnya, dan yang kedua adalah tempat dimana Nabi Isa a.s. menerima wahyu kerasulannya. Jika benar demikian, maka lantas ini berarti bahwa tin adalah benar-benar bukit dimana Nabi Isa a.s. biasa melakukan khutbahnya dan mestinya disini dia memberi pidatonya yang termasyhur yakni Khutbah diatas Bukit yang sangat dibanggakan oleh kaum Kristiani. Dalam khutbah inilah dia menyeru para muridnya memberikan pipinya yang lain, dengan kata lain, mereka harus menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati yang total.
Bukit Zaitun adalah tempat dimana Nabi Isa dan banyak nabi-nabi Bani Israil yang lain melangsungkan ibadah dan khutbah. Dari sini kita dengan mudah dapat menyimpulkan, bahwa mungkin tin dan zaitun adalah bagian dari bukit itu yang telah disebutkan ramalannya dalam Taurat sebagai Seir, yang tertulis dalam Al-kitab sebagai berikut:
”Tuhan datang dari Sinai dan bangkit dari Seir kepada mereka. Dia bersinar dari Paran, dan dia datang dengan sepuluh ribu orang suci; dari tangan kanan-Nya keluar hukum yang keras buat mereka” (Kejadian 33:2)
Kandungan Surah At Tin= Allah Menciptakan Manusia Dalam Bentuk Yang Sebaik Baiknya
Kutipan diatas berisi nubuatan yang jelas. Misalnya ”datangnya Tuhan dari Sinai” merujuk munculnya Nabi Musa a.s., ”bangkitnya dari Seir” berarti datangnya Nabi Isa a.s.; dan ”bersinarnya dari bukit Paran” meramalkan datangnya Nabi Suci Muhammad s.a.w. Paran (Faran) adalah perbukitan yang melingkari kota Mekkah. ”Hukum yang keras” merujuk kepada syariat Qur’an Suci dan ketika Nabi Suci Muhammad s.a.w. menaklukkan kota Mekkah maka beliau melakukannya bersama sepuluh ribu sahabatnya yang tulus, jadi jelas nubuat tersebut memenuhi ramalan: ”Dia datang dengan sepuluh ribu orang suci”.
Suatu pertanyaan bisa timbul dalam pikiran para pembaca. Sebagai ganti menyebut nama nabi-nabi, mengapa digunakan nama tempat dimana mereka muncul? Ini adalah kaidah keindahan dan metafor tinggi, sehingga untuk menambah kekuatan terhadap pernyataan itu, seringkali nama tempat digunakan padahal yang dimaksud sesungguhnya adalah nama orang. Misalnya, lihatlah apa yang ditulis oleh Mujaddid abad ini menyangkut syahidnya Sahibzada Abdul Latif di negeri Afghanistan:
Di sini, Kabul tidak menunjuk kota itu sendiri, melainkan para penghuninya yang mengambil bagian dalam dosa kejahatan yang sangat mengerikan itu. (Abdul Latif dirajam hanya karena dia menjadi seorang Muslim Ahmadi, pengikut Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad – Pent).
Surah At Tin Arab, Latin, Terjemahan, Tajwid Perayat, Asbabun Nuzul, Tafsir Dan Isi Kandungan
(Mekkah), merujuk kepada munculnya empat Nabi besar dimana wahyu Ilahi diturunkan dan yang menjadi model kesempurnaan dan suri tauladan dari akhlakul karimah. Kata-kata
(ara) dan zaitun diterapkan kepada Nabi Isa a.s. karena beliau memiliki suatu ciri khusus dimana ajaran dan sifatnya mewakili aspek keindahan dari kepribadian (
Sebaliknya, Bukit Sinai adalah tempat dimana Nabi Musa a.s. dianugerahi Hukum yang berisi ajaran serta contoh yang disiapkan untuk memelihara sifat manusia dari segi keperkasaannya .
Download Mp3 Surat At Tin,ayat 1 8, Lengkap Bacaan Tulisan Latin Dan Terjemahan
Betapa pun, kota Mekkah adalah tempat dimana Nabi Suci Muhammad s.a.w. menerima petunjuk sempurna dalam bentuk Qur’an Suci yang terdiri dari ajaran serta contoh yang bermaksud untuk mengembangkan kedua aspek dalam diri manusia yakni keindahan maupun kegagahannya. Dengan perkataan lain, ajaran beliau tidak saja menekankan kebersahajaan serta kerendah-hatian seperti yang diajarkan dalam Injil, ataupun hanya berkonsentrasi pada aturan yang keras seperti dalam kasus Taurat.
Secara kontras, agar manusia itu bisa menyempurnakan kedua aspek sifatnya, Nabi Suci Muhammad s.a.w. mengajarkan kita menggunakan kelembutan atau kekerasaan sesuai dengan keadaan yang diminta, serta dengan contoh-teladannya, beliau menggambarkan aspek keindahan dan kegagahan dalam pribadi manusia hingga tingkat yang setinggi-tingginya; dengan demikian membuktikan tanpa ragu bahwa manusia itu adalah ciptaan Allah yang sebaik-baiknya.
Di sini, hal yang perlu diingat adalah bahwa ramalan dalam Taurat: ”Tuhan tiba dari Sinai dan bangkit dari Seir kepada mereka, dan Dia bersinar dari Paran”; Sinai disebut pertama karena Nabi Musa a.s. muncul sebagai yang pertama dan Seir disebut demikian karena Nabi Isa a.s. datang lebih belakangan, karena disini perhatian ditujukan kepada peristiwanya secara urut waktu. Namun, dalam Qur’an Suci, urutannya dibalik: Tin (ara) dan zaitun, yang membentuk bagian dari Seir, ditempatkan terlebih dahulu baru Sinai belakangan. Hal Ini dikarenakan dalam periode kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w. sifat keindahan yang dimilikinya itu yang serupa dengan Nabi Isa a.s. datang pada awal kehidupannya di Mekkah, sedangkan era kegagahan pribadinya yang serupa dengan Nabi Musa a.s. datang belakangan ketika beliau tinggal di Madinah.
Isi Kandungan Surah Al Alaq
Karena itu, susunan dari kehadiran aspek sifat beliau yakni keindahan dan kegagahan yang menyerupai Nabi Isa a.s. dan Nabi Musa a.s. masing-masing terjaga dalam surat ini. Maka jika seseorang ingin melihat aspek keindahan yang tak tertandingi dari pribadi Nabi, dia bisa mencermati kehidupannya di Mekkah dan sebaliknya, bila dia ingin memandang manifestasi keperkasaan beliau, dia hendaknya mempelajari kehidupannya di Madinah. Dalam susunan kisah ini ada suatu nubuatan tersembunyi, karena hendaknya diingat bahwa surat ini diwahyukan di Mekkah.
Pendeknya, nabi-nabi berbeda datang pada saat berlainan di tempat-tempat yang lain-lain serta masing-masing mengajarkan tatanan atribut moral yang berbeda sehingga membuktikan bahwa bila manusia sungguh-sungguh menginginkan mengubah pribadinya sendiri maka dia dapat mengangkat segala perkara ini dalam kemuliaan.

Tetapi Nabi Suci Muhammad s.a.w. dalam sifat maupun suri tauladannya, adalah gabungan dari seluruh keluhuran akhlak dan ini membuktikan bahwa tidak saja manusia dapat mengungguli segala makhluk yang diciptakan dari segi moralnya, melainkan juga seperti Nabi Suci, menjadi gabungan dari segenap keluhuran moral dan dengan cara ini kehormatan manusia bisa mencapai kesempurnaan yang setinggi-tingginya. Lihatlah betapa indahnya penyair ini yang sangat memuji Nabi Suci Muhammad s.a.w.:
Simak Kandungan Surat At Tin Dan Artinya, Jangan Insecure!
Ada keterangan lain bagi tin (ara) dan zaitun, yang merupakan buah-buahan yang terkenal. Minyak zaitun itu memiliki dua manfaat yang sangat penting. Dia menjadi makanan dan juga menjadi bahan bakar untuk lampu. Kini, seseorang bisa bertanya, apa hubungan antara ara dan zaitun serta manusia sebagai makhluk Allah yang paling terhormat? Di sini, kita harus memahami bahwa dengan cara persamaan serta analogi ara serta zaitun di samping arti harfiahnya juga mengandung arti perumpamaan dan kiasan. Dan ini sesungguhnya adalah benar sebab didalam Taurat, cahaya Nabi Musa sistem aturannya itu seperti pohon ara, sebagaimana terbaca dalam Jeremiah bab 24 yang mengenai impian tersebut nabi berceritera:
”Tuhan telah menunjukkan kepadaku, dan lihatlah, dua keranjang ara disiapkan di depan kanisah Tuhan…. Satu keranjang sangat bagus sedang sekeranjang lainnya adalah buah ara yang busuk”.
Belakangan kita diberi tahu bahwa ”buah ara yang baik” adalah orang-orang yang tulus dari Bani Israil sedangkan ”buah ara yang busuk” adalah di antara mereka yang jahat sifatnya.
Surat At Tin
Sebagai tambahan, suatu alasan lebih lanjut yang bisa menunjang hal diatas, bisa kita baca dalam Mattius bab 21 mengenai kisah yang termasyhur dari pohon ara yang dikutuk oleh Nabi Isa a.s. Merujuk peristiwa ini, Alkitab berkata: ”Kini dipagi hari, ketika dia kembali ke kota, dia merasa lapar. Dan melihat pohon ara dari kejauhan, dia datang kepadanya dan tak menemukan apa-apa dibatangnya, tetapi hanya dedaunannya saja; dan ia berkata kepadanya:

Pertanyaan muncul, betapa bisa Al-Masih marah kepada pohon ara kerena tidak berbuah padahal itu bukan musimnya dia berbuah. Sesungguhnya, kalau bukan rukyah ini juga merupakan kisah perumpamaan yang oleh penulis Alkitab yang berfikir tekstual menganggapnya hal yang benar-benar terjadi. Di sini, pohon ara itu berarti bangsa Bani Israil: mereka hanya berdaun tetapi tak berbuah. Yakni, dari luar tingkah-lakunya terlihat indah, tetapi sesungguhnya mereka kehilangan ketulusan dan kesucian hati. Karenanya, kutukan dari Al-Masih jatuh menimpa mereka dan pohon itu berguguran ”seterusnya dan selamanya”.
Ini berarti bahwa rantai kenabian serta keruhanian telah dicabut dari bangsa ini. Dengan cara yang sama, Qur’an Suci mengibaratkan syariat Muhammad seperti pohon zaitun. Persamaan ini tersebut dalam Qur’an Suci surat 24, An-Nur (Cahaya) dimana kita baca bahwa cahaya umat Muhammad itu diterangi oleh minyak suatu pohon zaitun yang diberkahi. Jadi ara adalah lambang kaum Israil dan pohon zaitun adalah syariat Nabi Muhammad s.a.w., dan perlambang ini dijelaskan dalam ungkapan
Kandungan Surat At Tin Menjelaskan Perbuatan Manusia Dan Balasannya
Jadi surat ini menyajikan suatu perbandingan sejarah dari kedua syariat demi membuktikan kenyataan bahwa apapun ajaran Ilahi yang diturunkan di Bukit