|| Nusa Tenggara Timur sangat terkenal pariwisatanya yang mendunia selain destinasi wisata yang menjadi daya jual, terdapat juga cinderamata khas NTT seperti tenun ikat. Tenun ikat dimiliki dari 22 Kabupaten/Kota se-NTT dengan 3 corak motif berbeda-beda, serta cerita dan maknanya pun berbeda.
Kali ini sobat Timor Exotic, kita mengenal 3 jenis motif di TTU. Timor Tengah Utara (TTU) di Nusa Tenggara Timur adalah daerah yang kaya akan budaya dan tradisi. Salah satu aspek penting dari warisan budaya yang luar biasa di TTU adalah seni tenun khas mereka. Tiga motif tenun yang terkenal di daerah ini adalah Buna, Sotis, dan Ikat. Tenun ini bukan hanya merupakan warisan penting dari nenek moyang mereka, tetapi juga telah menjadi identitas yang kuat bagi masyarakat TTU. Keaslian dan keindahan motif-motif ini telah terjaga selama bertahun-tahun dan menjadi sebuah kekayaan tak ternilai bagi daerah ini.
Tradisional Malaysia title=Mengenal Kain Tenun Khas Toraja Dari Sa'dan style=width:100%;text-align:center; onerror=this.onerror=null;this.src='https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRyBw6RxBTAzNgmdAeWLloefticKzi0N3VwLLA2HmlMM5GFNl4hdswuIsybMPcMfsSSLgY&usqp=CAU'; />
Motif Buna Salah satu motif tenun terkenal dari TTU adalah Buna. Buna menampilkan corak geometris yang rumit dan penuh warna. Motif ini biasanya terdiri dari garis-garis, kotak-kotak, dan segitiga-segitiga yang saling bersilangan, menciptakan pola yang mengesankan. Warna-warna cerah dan kontras digunakan dalam pembuatan tenun Buna, menciptakan efek visual yang menarik. Para penenun menggunakan benang alami yang telah diwarnai dengan pewarna alami, seperti tumbuhan atau mineral, untuk memberikan warna yang tahan lama dan alami pada tenunan.
Kubilai Khan Pdf
Motif Sotis Motif Sotis merupakan salah satu motif tenun yang paling banyak dibuat oleh para penenun di TTU. Motif ini relatif lebih mudah dibuat dibandingkan dengan motif lainnya, dan durasi pembuatannya juga lebih singkat. Corak yang biasanya ditawarkan dalam motif Sotis adalah Matepon atau Mawanan. Matepon menampilkan pola bunga-bunga kecil yang teratur dan cantik, sementara Mawanan memiliki pola geometris dengan garis-garis yang saling berhubungan. Meskipun sederhana dalam desainnya, motif Sotis tetap menarik dan menjadi pilihan yang populer di kalangan masyarakat TTU.
Motif Ikat, Motif Ikat merupakan salah satu teknik tenun yang paling rumit dan menarik di TTU. Ikat melibatkan proses mengikat dan mewarnai benang sebelum dilakukan penenunan. Pola-pola yang kompleks dan detail diciptakan melalui proses ini. Motif Ikat sering kali memiliki corak geometris atau figuratif yang melambangkan cerita dan mitos lokal. Keindahan dan kompleksitas motif Ikat menjadikannya pilihan yang istimewa dan paling dihargai oleh para kolektor dan pecinta seni tenun.
Tenun Buna, Sotis, dan Ikat dari TTU bukan hanya sekadar kain-kain yang dihasilkan oleh tenunan tangan. Mereka mencerminkan kekuatan dan keindahan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Proses pembuatan tenun ini dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diteruskan dari generasi sebelumnya. Para penenun di TTU menghargai dan menjaga keaslian teknik tenun ini, sehingga menjadikan tenun mereka memiliki nilai yang tak ternilai.
Kain Tenun Pringgasela, Lombok Timur
Selain menjadi identitas bagi masyarakat TTU, tenun Buna, Sotis, dan Ikat juga memiliki peran penting dalam perekonomian lokal. Keterampilan dalam pembuatan tenun ini menjadi sumber penghasilan bagi banyak perempuan di daerah tersebut. Para penenun dapat menjual produk tenun mereka baik secara lokal maupun di pasar internasional, sehingga membantu meningkatkan taraf hidup mereka dan mendukung keberlanjutan budaya tenun di TTU.
Pemerintah dan berbagai organisasi non-pemerintah telah menyadari pentingnya melestarikan dan mengembangkan seni tenun di TTU. Mereka telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung penenun dan mempromosikan produk tenun dari daerah ini. Dalam beberapa tahun terakhir, tenun Buna, Sotis, dan Ikat telah semakin mendapatkan pengakuan dan apresiasi di tingkat nasional maupun internasional.
Kekayaan budaya dalam bentuk tenun khas TTU ini tidak hanya memancarkan keindahan dalam pola dan warnanya, tetapi juga menceritakan sejarah dan identitas masyarakat TTU. Tenun ini merupakan warisan berharga yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda agar tradisi ini tetap hidup dan berkembang.
Mengenal Kain Tenun Khas Toraja Dari Sa'dan
Dengan terus mempromosikan dan mendukung seni tenun Buna, Sotis, dan Ikat, Timor Tengah Utara dapat membanggakan kekayaan budayanya yang luar biasa. Tenun menjadi lambang keindahan, keahlian, dan keberlanjutan warisan budaya yang diberikan oleh nenek moyang mereka. Dengan upaya yang berkelanjutan, TTU dapat memastikan bahwa tenun ini akan terus menjadi sebuah kekayaan tak ternilai bagi daerah ini, menjaga warisan budaya yang kaya dan unik bagi generasi mendatang.Warga Suku Baduy Luar menenun kain khas Baduy di Desa Kanekes, Lebak, Banten, Senin (29/6/2020). Warga Suku Baduy Luar masih memproduksi kain tenun khas baduy meskipun permintaannya menurun akibat sepi wisatawan yang berkunjung ke wisata Suku Baduy | ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Kain tenun tak sekadar kain untuk masyarakat Tiga Batu Tungku, yaitu suku Molo, Amanatun, dan Amanuban di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Bagi mereka, kain tenun punya cerita sejarah luar biasa, sekaligus jadi media ekonomi bagi perempuan membantu keluarga, serta menyuarakan kepentingan perempuan.
Aktivis lingkungan dan pelestari tenun dari Timor Tengah Selatan, NTT, Aleta Baun menjelaskan awal mula mama-mama (sapaan untuk para ibu di NTT) menenun karena ingin menjaga lingkungan setempat. Ketika alam rusak, maka alat tenun akan hilang. “Tenun itu adalah bagian kekayaan alam, ” kata Aleta dalam acara Sharing Dialog 'Weaving For Life' yang bertemakan “Tenun untuk Kehidupan: Sebuah Perjalanan”.
Toko Buku Online Daon Lontar: Ragam Kain Tradisional Indonesia Tenun Ikat
Saat kekayaan alam dirusak, maka bagian dari aktivitas kaum peremuan itu akan hilang. Kondisi itu tentu berpotensi membuat masyarakat kesulitan mencari nafkah.
Aleta menjelaskan menenun adalah bagian dari kegiatan sehari-hari kaum perempuan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mama-mama juga meyakini tenun bukan hanya tentang menjual atau membungkus badan, tetapi tenun bagian dari sejarah kehidupan orang Timor. Kegiatan mempertemukan dan merajut benang itu bagai mempersatukan kesatuan yang harus diperjuangkan bersama.

Sayangnya, nilai jual tenun setempat masih rendah dan mutunya juga masih kurang baik. Lantaran itulah tercetus ide gerakan Weaving for Life yang dimulai dengan menggandeng tiga desainer muda asal Yogyakarta, yakni Lia Popperca, Lulu Lutfi Labibi, dan Dede Bastam.
Motif Kain Tradisional
Mereka secara khusus mendesain karya busana menggunakan bahan dasar kain khas Molo, Amanatun, dan Amanuban. Hasil keuntungan penjualan baju-baju itu digunakan meningkatkan mutu tenun di ketiga wilayah tersebut dengan pembelian benang dan pewarnaan yang tidak luntur, juga pembelian mesin jahit untuk membuat produk turunan tenun.
Salah satu penenun, Nyoman mengatakan masyarakat diajari bagaimana pengembangan pewarna alam, khususnya biru dan merah yang sulit. Penenun menggunakan daun indigofera tinctoria yang banyak ditemui di tepi pantai untuk membuat warna biru. Sementara warna merah didapat dari kulit akar mengkudu yang melalui proses perminyakan selama dua minggu untuk hasil maksimal.
Cerita tak kalah menarik datang dari Desa Bayan di Kabupaten Lombok Utara, NTB. Ini adalah desa adat yang erat menjaga budaya, terutama upacara agama, pernikahan, kelahiran, maupun kematian. Di setiap upacara itu, masyarakat Desa Bayan menggunakan kain tenun tradisional setempat untuk pakaian dan penutup kepala.
Tena Magazine, Vol.6 Tahun 2022, Edisi 4, Wastra Ntt By Tena Magazine
Dengan motif warna-warni, kain tenun Bayan itu menyimpan potensi dikembangkan lebih jauh menjadi produk turunan. Karena itu, kegiatan di Desa Bayan lebih menitikberatkan pada pengembangan produk turunan.
Penenun asal Desa Bayan, Lombok Utara, Efta Naif mengungkapkan kelompok tenun di daerahnya terbentuk bertujuan pembinaan untuk regenerasi. Di Bayan, Efta mengatakan tenun adalah barang berharga, karena kain itu digunakan penduduk setempat dari lahir sampai meninggal.

Salah satu pendamping, Fitria Werdiningsih mengatakan semangat orang-orang di Desa Bayan melestarikan tenun telah menyebar dengan cepat. Karena itu, proses regenerasi penenunnya juga terjadi cepat.
Sisi Lain' Tenun Ikat Sumba Timur
Tidak hanya di NTT dan NTB, warga Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara juga memiliki aturan dalam pemakaian tenun. Kain tenun Wakatobi memiliki motif khusus atau aturan pemakaian yang masih dipatuhi sampai sekarang. Motif laki-laki dan perempuan dibedakan mulai dari akses tenunnya. Pun besaran pinggiran kain bisa membedakan strata sosial pemakainya.
Salah satu penenun asal Kaledupa, Wakatobi, Mursiati menjelaskan selama ratusan tahun tenun di Kaledupa bertahan dengan pakem yang diwariskan dari nenek moyang sampai kini. Di Wakatobi sendiri, masyarakat tak pernah berpikir bahwa tenun itu bisa meningkatkan kehidupan perempuan dan ekonominya.
Karena itu, kegiatan Weaving for Life di Kaledupa fokus pada pengembangan motif tenun baru yang nantinya diproduksi menjadi produk turunan agar tidak menyalahi pemakaian tenun motif tradisional.
Media Indonesia 6 Agustus 2023
Ketika penenun memproduksi motif baru yang diperjualbelikan dan diproduksi lagi untuk tas, masyarakat setempat menikmati proses itu. Alasannya, tak ada nilai adat atau motif yang bertentangan untuk dijual dalam bentuk lain. Sebenarnya, Mursiati mengatakan penenun setempat tak pernah mencatat jumlah motif yang dihasilkan.
Tidak hanya itu, “Yang luar biasa itu menggali nilai. Bagi kami yang paling berkesan adalah selama ini kami tak pernah berpikir mendiskusikan ke penenun bagaimana orang tua menamakan motif itu, ” ujar Mursiati.
![]()
Kemudian, dia menyadari catatan itu penting, salah satunya berhubungan dengan lingkungan, karena ada nama pohon, bunga, dan lain-lain. “Hal menarik yang sebenarnya menggali tenun bukan tentang seutas benang menjadi kain, tapi menggali nilai diri dan Kaledupa itu sendiri, ” kata dia.
Pemudi Timur Yang Andal Menenun
Hal menarik yang sebenarnya menggali tenun bukan tentang seutas benang menjadi kain, tapi menggali nilai diri dan Kaledupa itu sendiri. Mursiati, penenun asal Kaledupa, Wakatobi. SHARE
Pandemi Covid 19 saat ini pun membawa hikmah bagi masyarakat setempat. Banyak anak sekolah dan kuliah yang belajar dari rumah malah kemudian tertarik mempelajari cara menenun. Berdasarkan catatan, kini ada 240 penenun di desa itu. Bahkan, saat ini pun anak-anak sudah tahu motif-motif setempat.
Tak pelak butuh dukungan antargenerasi untuk melestarikan warisan budaya tenun. Tanpa regenerasi pelestarinya, tenun dengan segala ceritanya hanya akan berujung pada kisah sejarah.
Pendekatan Tradisional Dalam Terminologi: Seni Tenun Melayu
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.